Kalau dua orang saling menyukai, maka mereka akan sama-sama berusaha untuk semakin mendekat. Kalau usaha hal yang demikian rutin dikerjakan terus menerus, perasaan menyukai itu akan berkembang menjadi cinta. Sebaliknya, bila hanya satu orang yang berusaha sementara satunya lagi tak, maka perasaan itu tak akan tumbuh menjadi cinta.

Saya kasih analogi, bayangkan skenario ini: Anda betul-betul menyukai iPhone X dan berkhayal membelinya nanti. Jadi Anda mulai menyisihkan gaji dan kerap lembur larut malam agar bisa membeli gadget canggih hal yang demikian. Setelah menabung cukup lama, hasilnya kotak hitam mahal itu sampai di tangan Anda.

Bayangkan perasaan Anda saat menggeser-geser layar iPhone X hal yang demikian, pasti bahagianya bukan main! Anda merawat iPhone itu dengan baik, memasukkannya ke saku dengan hati-hati, dan melarang keponakan Anda yang masih kecil untuk mengontrolnya. Anda naik pitam sekali bila iPhone itu lecet atau jatuh. Dengan kata lain, Anda betul-betul mencintai iPhone itu.

Satu hal yang seharusnya diketahui bahwa Anda mustahil mencintai iPhone hal yang demikian bila belum memilikinya. Rasa cinta itu timbul sebab Anda menginvestasikan semacam itu banyak uang, waktu, dan daya untuk merawatnya. Anda tak mungkin semacam itu mencintai iPhone yang masih terpajang rapi di etalase warung. Kalau Anda hanya bisa mengintip ke etalase dan berkhayal memilikinya, itu bukan cinta tapi ngarep.

Coba ganti objeknya dari iPhone menjadi pasangan jasa guest posting. Semakin besar investasi Anda ke ia, semakin Anda mencintainya. Prinsipnya sama bukan?

Anda tak mungkin mencintai seseorang yang belum menjadi kekasih Anda. Dalam tahap PDKT, progres yang terjadi baru ketertarikan lahiriah dan interaksi sosial. Sama sekali tak ada unsur cinta di dalamnya sebab ia belum menjadi milik Anda. Dikala kalian sudah saling mempunyai, akan ada banyak sekali investasi yang Anda berikan untuk menjaga relasi hal yang demikian. Dari situlah tumbuh yang namanya cinta.

Definisi tipe “Cinta ialah pengorbanan” atau “Cinta ialah apa yang dirasakan di hati” sesungguhnya tak salah bila Anda sudah mempunyai pasangan. Anda memang perlu mengorbankan waktu dan daya untuk menjaga relasi. Anda juga pasti merasakan cinta di hati setelah banyak berinvestasi ke pasangan.

Namun, salah besar bila Anda menggunakannya saat masih tahap PDKT. Lantas saya jelaskan di atas, banyak berkorban saat PDKT justru merugikan Anda sebab belum tentu ia menerima cinta Anda. Mesti mengevaluasi rasa deg-degan di hati sebagai pertanda cinta juga bisa membuat Anda pesat baper. Cuma tak perlu terlalu banyak berinvestasi waktu, uang, dan pikiran untuk seseorang yang berstatus gebetan.

Strategi dari definisi cinta saja bisa membuat Anda mengerjakan hal-hal yang sesungguhnya baik, tapi tak layak daerah dan waktunya. Kalau PDKT Anda jadi berantakan dan tak mendatangkan hasil. Kalau serius berharap mengkoreksi kisah asmara Anda yang tragis, pertama-tama ganti definisi cinta yang selama ini Anda yakini. Pahat kuat-kuat di benak Anda bahwa cinta ialah hasil investasi setelah mempunyai pasangan.

Kalau kedua, Anda bisa meniru Hitman System Online Training (bagi pria) atau Lovable Lady Cuma (bagi wanita) yang akan membongkar segala kesalahan PDKT Anda. Kalau tahu salahnya dimana, Anda bisa menciptakan strategi efektif untuk menerima pasangan cita-cita. Anda juga akan diajar bagaimana berinvestasi yang benar agar relasi langgeng untuk waktu yang lama. Anda sudah mengerjakan perubahan besar hanya dengan mengganti pemahaman saja.  apa Anda berani merubah sesuatu yang sudah lama tertanam di otak Anda?

"Cinta adalah hasil investasi" By admin No Comments

ADD COMMENT